Kehidupan Kitalah Yang Memberi Nilai, Bukan Dosen

Barusan saya melihat nilai matakuliah saya yang mendapatkan nilai C. Rasanya asam sekali… asam itu ibarat masuk kedalam pencernaan, melumatkan apa yang ada didalam perut dan akhirnya membuat perut sakit ingin muntah karena dipenuhi asam lambung. Sayapun meringis. Damn!, apakah dosen-dosen itu tahu saja saya kekurangan vitamin C karena jarang memakan buah-buahan dan sayur-sayuran, sehingga daya tahan tubuh saya tidak mengerti bagaiamana sebenarnya sistem penilaian mereka itu yang memberi nilai C.

Setelah saya lihat hampir disetiap semester saya tidak pernah luput dari nilai C, mayoritas mata kuliah yang berada dijajaran C adalah yang berhubungan dengan MKDU yang para dosennya berasal dari luar jurusan yang saya ambil. Mengecewakan sekali, padahal MKDU itu mayoritas orang lain mendapat A. Masih beruntung selama kuliah saya tidak lupa-lupa ingat sehingga tidak berubah dari C ke D minor, ah hal seperti itu harus dikubur dalam-dalam baik itu dipikiran apalagi di kehidupan nyata.

Setelah saya amati ternyata ada juga sedikit MKDU yang mendapatkan nilai A dan B, dan kini mata saya tertuju tajam ke huruf bertuliskan PKN, tidak ayal lagi itu merupakan sebuah fenomena unik karena saya mendapatkan nilai B di matakuliah itu. Padahal saya sangat tidak berminat terhadap mata kuliah seperti itu.

Selain memiliki pertanyaan soal ulangan yang semua jawabannya adalah benar dan sangat subjektif sekali, menurut saya pendidikan budi luhur yang menanamkan nilai-nilai moral tidak dapat mempengaruhi watak seseorang. Alias tidak efektif membuat seseorang menjadi berwatak dan berkelakuan baik serta menampik keburukan. Misalnya saja rekan saya ketika SMA dahulu yang “baong” kendatipun mendapat nilai 10 ketika ulangan PPKN, sifat “baong”nya tetap saja tidak berubah.

Dan kebetulan saya menjadi bahagia sekali ketika saya membaca sebuah artikel di kompas.com yang ternyata satu pemikiran dengan saya selama ini, artikel itu berjudul “pendidikan watak pembiasaan”. Artikel itu menjelaskan tentang sekilas isi buku terbaru Franz Magnis-Suseno berjudul “Menjadi Manusia, Belajar dari Aristoteles”.

Kalimat yang paling saya sukai dalam artikel tersebut adalah sebagai berikut :
‘Menurut Magnis, yang lebih diperlukan untuk menghasilkan pribadi yang beretika adalah pembiasaan. Tapi Magnis memngingatkan orangtua bahwa dalam mempraktikkan pembiasaan itu, anak tak perlu dipaksa-paksa. “Anak tak perlu dipaksa berlaku etis, tapi dibantu agar mereka merasa gembira saat berbuat baik dan sedih saat berbuat buruk,” kata Magnis’.
Oh si Magnis itu kata-katanya manis sekali bukan?

Menjadi sungguh ironis, tatkala pendidikan kita mengajarkan untuk mencintai kebersihan, namun kebiasaan dan kultur di negara Indonesia membuat orang membuang sampah dimana saja. Dan lagi orang yang membuang sampah sembarangan itu adem ayem seolah tidak merasakan kebahagiaan apabila melihat lingkungan disekitarnya bersih, membuang sampah sembarangan juga sering dilakukan para orang tua dan masih jarang ditanamkan sebagai kebiasaan bagi para anak-anaknya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita calon orang tua kelak untuk menanamkan dan memberi contoh panutan kebiasaan yang baik kepada anak kita kelak.

Sialnya bagaimana bisa kita dapat menjadi orang tua yang mampu untuk menanamkan dan memberi contoh panutan kebiasaan yang baik kepada anak kita kelak kalau kitanya sendiri belum mampu menjadi orang yang berwatak baik. Orang yang berwatak baik adalah orang yang bahagia ketika mengerjakan suatu perbuatan baik dan tidak merasa bahagia ketika melakukan suatu perbuatan buruk.

Sudahkah anda jadi orang baik yang mendapatkan nilai A dari kehidupan sebenarnya?

Credit Ilustrsi: http://www.romokoko.com/images/nilai_evaluasi_lebaran_menhub.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s