The Candle Light

Seperti lilin yang terbakar itu, selalu mengikuti sumbu. Dan aku hanya mengikuti waktu, entah, semuanya membawaku begitu saja. Tetapi bagaimanapun ini terjadi, aku akhirnya akan berhenti. Meski berhenti dimana itu tergantung apa yang aku pilih, maka aku ingin memilih untuk berhenti bersamamu. Namun semua ini sungguh aku tak kuasa memilihnya. Dan aku bertekuk lutut pada takdir yang sebenarnya bukan sesuatu yang aku ingin lalui.

Jajaran tanaman padi yang tadi petang kulihat dahulu hijau, kini telah menguning. Dan lekatnya waktu itu, semakin mengikat walaupun menjauh. Detik yang aku lewati seperti banyaknya bulir padi yang terdapat dalam banyak petak-petak sawah itu, walau bagaimanapun semua itu hanyalah segenggam bagi kepalan jiwaku, sebab banyaknya itu masih saja aku rasa dan tak pernah beranjak pergi. Aku bawa kemanapun aku pergi. Lumbung hatiku selalu membawa genggaman itu, dengan berat dan lekat.

Gerakan api dililin itu berirama bergerak kesana kemari, dan aku berpikir lagi. Ah, selalu ada sesuatu yang lain. Kali ini jiwaku seperti semerbak harum melati, harumnya terasa namun tak bisa diraba. Aku tak perlu menyentuhmu, karena semua rasa ini sudah mendekapku dengan hangat. Rindu yang hanya sandiwara ini, andai saja semua ini nyata.

Cahayanya berputar, kulihat dari bayanganku yang bergetar. Ya, padi itu suatu saat akan mati dan menumbuhkan benih-benih baru yang hijau. Selalu berputar seperti itu. Aku lebih senang dengan tanah yang hijau, sebab membawa kedamaian dan kesejukan. Seperti birunya air dilautan, merahnya sunrise, kuningnya sunset, atau berupa warna pelangi, semua warna itu selalu menggoreskan warna tersendiri bagi jiwa. Dan begitu pula warnamu itu, warna-warna hanya dapat dilihat dan tak dapat kupeluk erat-erat, tak dapat kubelai dengan kasih sayang, tak dapat kucium dengan penuh cinta. Semuanya, semua itu hanya bisa kunikmati saja keindahannya. Kupandangi semua dari jauh dan kadang aku tak memandangmu sama sekali, sebab tak perlu aku pandangi, kamu sudah lekat dihatiku.

Biarlah. Biarlah, lilin itu padam. Biarlah beku dalam kerinduan, biarlah haru membiru, biarlah hijau menjadi memar, biarlah merah padam menghitam, atau kuning menjadi coklat pucat. Sebab hatiku sudah berwarna legam dari dulu, dan kini kau sudah menambah gelap semuanya walaupun kau tanamkan pula putih yang mampu menerangi semua itu. Maka biarlah, karena sungguh ada kebahagiaan dibalik setiap kesedihan.

credit ilustrasi : upload.wikimedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s