Cahaya Bulan Itu Masuk Kehati Namun Tak Mampu Mengisinya

Saya memandang bulan malam ini, indah sekali. Bulan dilangit malam yang gelap ini begitu bulat dan pancaran sinarnya remang, sebuah pancaran yang begitu sempurna untuk disebut sebuah karya seni yang mampu membuat terpesona bagi siapapun yang memandangnya. Keindahan bulan itu membuat sifat romantisme saya muncul. Betapa tidak, cahaya bulan yang antara redup dan terang ditengah langit malam yang gelap gulita itu memancarkan keindahan dan kesejukan tersendiri kedalam jiwa, keindahan itu tidak mampu diungkapkan oleh kata-kata. Saya begitu khusyuk merasakan dan meresapi keindahan itu, mengalun dan berirama. Ah yang pasti begitu dalam saya resapi, namun entah kenapa saya jadi merasa sepi.

Mungkin rasa sepi itu karena memori yang meletup kembali. Didalam pikiran ini masih ada bagian neuron yang menyimpan kenangan manis tentang dia yang manis. Selalu manis, tak perduli ada pahit didalamnya. Dan tanpa terasa air mata saya menetes, bulan yang bulat sempurna itu menjadi tak beraturan bentuknya karena cahayanya yang saya lihat terbias oleh air mata.

Lama dan akhirnya saya sadari, ternyata memandangi bulan dan meresapai keindahannya tidak mampu mengisi hati yang kosong ini. Entah kenapa saya begitu rindu dengan rasa yang bernama “cinta” itu. Hati saya tampaknya begitu keras karena tidak mampu mengabsorpsi betapa lembutnya perasaan menyayangi untuk mengisi kekosongan itu.

Ah persetan dengan cinta. Karena keparat cinta itu keindahannya tidak akan sempurna apabila tidak menyatu. Ya, keindahan sesungguhnya cinta itu muncul karena ada “saling” dan “bersama”. Sulit rasanya menjadi keindahan yang sempurna apabila tidak sepasang. Sepasang itu tampaknya menjadi kunci untuk membuka jalan kesempurnaan cinta dan kunci yang mengunci untuk menjaganya agar senantiasa bersatu. Maka dari itu cita-cita terbesar saya didunia adalah memperoleh seorang pasangan hidup yang tak akan pernah mati didalam kehidupan saya sampai saya mati.

Berpasangan itu adalah hal yang sangat indah. Kita semua tercipta karena suatu prinsip “keberpasangan”. Dari tataran benda yang paling besar semisal Quasar ataupun yang lebih besar dari itu sampai dengan tataran benda terkecil semisal Quark atau mungkin yang lebih kecil dari itu dan belum kita ketahui, semuanya memiliki pasangan masing-masing.

Alam semesta ini tercipta karena keberpasangan, seluruh isi dunia ini dan kehidupannya, ada baik dan buruk, kanan dan kiri, atas dan bawah, cinta dan benci dll. Keberpasangan ini adalah suatu pertanda betapa luas ilmu dan keagungan sang arsitek alam semesta ini, sang pencipta seluruhnya, yakni Tuhan.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS: Yaasiin ayat 36)”.

Ya Allah, berikan hamba pasangan hidup yang terbaik dan dalam waktu yang terbaik agar hidup hamba sempurna. Jadikanlah hamba jiwa yang sempurna untuk selalu memuji dan tunduk kepadaMu. Selalu.

06 September 2009 at 11:48 PM

credit ilustrasi: http://www.katakataku.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s