UU Hak Cipta Oke, Tapi saya akan mendukung para pembajak!!

Saya baru saja membaca secara mendalam UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Saya setuju dan mendukung UU ini, namun ada point yang saya kritisi, khususnya dibagian pembahasan tentang hal-hal yang tidak dianggap termasuk pelanggaran hak cipta yakni yang ini : “Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa dengan perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang non komersial, semata-mata untuk keperluan aktivitasnya”.

Mengapa Program komputer tidak boleh hah? Apa yang salah dengan program Komputer?, sebagai mahasiswa Ilmu Komputer yang kuliah di sebuah universitas yang berbasis pendidikan saya merasa tersinggung.

Sekarang kita beralih dari permasalahan pribadi saya itu ke masalah yang lebih luas yakni masalah keluarga, masalah tetangga, masyarakat dan saya harap negara. Telah kita ketahui, di lembar awal sebuah buku, dibagian bawah atau belakang cover video, mp3 dan lain-lain segala macam bentuk hak cipta entah itu produk asli atau sudah dibajak. Mungkin anda sudah tidak asing lagi dengan kalimat ini “Hak cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang membajak, memperbanyak blablabala sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan cara apapun juga blablabla tanpa izin dari blablabla.”

Asal anda ketahui, secara tidak langsung tulisan itu telah menghina kakek dan nenek saya, juga para tetangga saya dan bahkan lebih banyak lagi masyarakat Indonesia. Saya merasa terpukul, membajak adalah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Betapa tidak, kegiatan membajak ini sudah menjadi budaya turun-temurun yang diwariskan nenek moyang kita. Bahkan mungkin membajak ini sudah menjadi folklore yang justeru harus dilestarikan. (folklore adalah suatu karya intelektual yang terdapat di dalam masyarakat tradisional secara turun temurun dan apabila tidak dipertahankan dikhawatirkan akan punah dan apabila itu terjadi akan merupakan kerugian bagi khasanah pengetahuan manusia pada umumnya, atau dikhawatirkan akan dimanfaatkan secara tidak sah dan tidak adil oleh pihak-pihak di luar pemiliknya).

Kawan, masyarakat Indonesia hidup di tanah air yang subur, kebanyakan hidup sebagai pelaut dan petani. Petaninya sebagian besar hidup dari membajak sawah. Anda-anda sekalian juga jangan lupakan jasa-jasa mereka para pembajak, yang dengan susah payah mempersembahkan beras yang dapat membuat hidup kebanyakan bangsa Indonesia. Kendatipun ada roti dan lain-lain, tapi masyarakat kita akan tetap kelaparan tanpa nasi. Masyarakat Sunda misalnya, tidak akan pernah makan sebelum memakan nasi (tidak akan pernah disebut makan sebelum makan nasi. Urang Sunda, abdi leres pan?, acan disebat atos tuang euy upami teu acan tuang sareng sangu mah).

Lagipula bicara soal bajak-membajak sebenarnya saya adalah penggemar “One Piece”, kisah petualangan bajak laut karya Eiichiro Oda itu membuat saya memiliki semangat layaknya seorang bajak laut. Duhai Monkey D. Lufi, Roronoa Zoro dan kawan-kawan, terimakasih telah memberi inspirasi bagi saya, saya mendukungmu!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s