Phobia

Kawan, saya adalah lelaki normal yang suka kepada wanita berparas cantik. Tapi tidak dengan wanita jadi-jadian. Baik itu jadi dari lelaki, ataupun jadi bukan dari manusia.

Pernah teman kostan saya waktu itu mengetuk-ngetuk pintu. Memanggil-manggil saya, padahal ketika itu saya sedang keluar kostan. Kendatipun keluar saya tidak mematikan komputer saya. Teman saya itupun, entah bohong atau tidak. Melihat kedalam kamar lewat jendela. Dia melihat sesosok wanita berkulit putih dengan rambut yang panjang sepinggang sedang menghadap berbalik arah ke arah yang berlawanan dengan jendela. Tepatnya mebelakangi penonton (teman saya).

Tentu itu hanya cerita dari teman kostan saya itu, kebenarannya sangat diragukan. Mengingat teman saya itu adalah seorang pembual. Lagipula selama 3 tahun saya tidur dikamar itu, dan tidak pernah sebelum-sebelumnya merasakan ada yang ganjil atau sosok yang menganggu. Tidak sama sekali. Namun entah mengapa tetap saja mendengar bualan seperti itu membuat adrenalin selalu naik pitam, juga membuat hormon-hormon lainnya menebarkan rasa takut. Kalau dipikir secara logika, untuk apa kita takut pada sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, yang jelas-jelas tidak membahayakan diri?.

Diluar rasa takut naluriah yang sudah terbuild in didalam pikiran mausia dan rasa takut akibat pengalaman masing-masing manusia. Takut itu kebanyakan adalah bawaan dan pendapat khalayak umum yang masuk kedalam alam pikiran. Takut itu adalah tiruan dari orang disekitar kita yang juga meniru orang disekitarnya. Takut akan hantu misalnya, kita dinegara Indonesia tentunya tidak takut melihat vampir dan drakula, sebaliknya akan tetapi mereka yang disana tidak takut dengan apa yang namanya pocong dan genderuwo.

Yang jelas, ngomong-ngomong soal takut, Harun Yahya mengatakan, seharusnya kita takut berada diatas planet bumi ini. Asal anda ketahui dibawah kulit bumi yang tipis tempat kita berpijak dan beraktifitas sehari-hari adalah kobaran panas magma yang membara, yang bisa saja sewaktu-waktu membalik atau keluar menjadi lava letusan gunung yang dahsyat. Namun kita tidak takut berada diatas planet bumi, kebanyakan manusia tidak memikirkan kearah itu, dan kebanyakan itu menular kepada kita. Menjadikan sesuatu yang umum dan tidak perlu dipandang sebagai sebuah rasa takut. Entah ini sebuah sifat keadaan yang baik bagi pikiran atau bukan.

Kita tidak sadar dan takut akan datangnya kematian, padahal kematian bisa datang sewaktu-waktu. Ketika memandang langit, bisa saja secara tiba-tiba ada meteor yang jatuh menimpa. Ketika kita didalam rumah bisa saja gempa bumi datang dan meruntuhkan atap rumah sehingga menimpa anda dan mebuat anda mati seketika, tidak dengan saya karena didalam pikiran saya, saya keburu lari untuk menyelamatkan diri.

Takut itu memang aneh, untuk apa kita takut mati dimedan pertempuran misalnya. Bukankah mati itu tetap saja menjemput kita walaupun ketika kita tidak berperang. Untuk apa kita takut disebut jomblo karena tidak punya pacar, toh ada banyak manusia didunia yang pastinya ada yang akan menyukai dan ingin menjadi kekasih kita. dll.

Takut itu memang penting dan bermanfaat sesuai dengan bagaimana kita menyikapinya. Menyikapi  takut akan tergantung dari kualitas keimanan dan pikiran seseorang. Kondisi takut bergantung kontrol seseorang. Maka kita harus belajar mengontrol rasa takut ini agar tetap berada pada tempatnya. Tempat dimana semestinya rasa takut itu berada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s