Kemanakah pikiranku melayang, ketempat sampahkah?

“Swiiing…. Crot,, plak ketepluk…! “

Seorang bapak dengan lengan baju batik dan jam tangan mengkilat melemparkan botol minuman yang berisi sedikit air ke dalam selokan dipinggir jalan raya. Dengan kendaraan sedannya yang aduhai manusia itu melaju perlahan-lahan diantara tumpukan kendaraan lain yang membuat macet jalanan kota Ban****.

Seorang anak yang dituntun ibunya sedang memakan es krim dipinggir jalan raya, lalu terlihat membuang sampah eskrim tersebut dijalan yang dilaluinya. Si Ibu melihat anaknya membuang benda itu dari tangan mungil anaknya, tetapi nampaknya Ibu itu tidak menyadari atau entah tidak perduli membiarkan sampah yang dibuang anaknya begitu saja, tercecer dipinggir jalanan. Terdengar samar-samar suara Ibu itu mengeluarkan tisue dari tas cantiknya dan berkata kepada anaknya “sini mamah bersihin tanganya biar nggak kotor”.

Keparat!, pikirku didalam hati.

Kebersihan sebagian dari iman, bersih pangkal sehat, bersih itu indah.. hanya jadi jargon semata. Ataukah mungkin sampah-sampah yang berceceran merupakan keindahan yang bersih?. Jadi tidak perlu kita membuang sampah pada tempatnya, toh tong sampah alias tempat sampahnya saja tidak ada disekitar kita.

Ataukah manusia Indonesia malu kepada diri sendiri, malu untuk membuang sampah pada tempatnya, mengingat sampah masyarakat sudah menjadi hal yang umum dan tidak mungkin dibuang pada tempatnya, karena mungkin dirinya atau sebagian sahabat dan keluarganya akan ikut terbuang pada tempatnya?.

Ataukah manusia Indonesia senang berolahraga dan beraktifitas bahkan saat musim penghujan tiba, sengaja membuang sesuatu ke jalur-jalur air agar memiliki kegiatan yang bermanfaat saat hujan besar melanda?.

Ataukah kebanyakan manusia berKTP Is*** itu menganggap bahwa masalah sampah itu tidak diperlukan saat melakukan ritual ibadah, menjaga kebersihan wudhu lebih penting daripada membuang sampah pada tempatnya?.

Ataukah kebanyakan masyarakat Indonesia terlalu sibuk memikirkan pendidikannya, ekonominya, kesehatannya, keadaan negaranya agar senantiasa membaik?. Memberantas korupsi yang tidak dapat dilakukan setiap manusia lebih baik daripada menjaga diri untuk melakukan hal sia-sia atau memulai diri untuk tidak membuang sampah sembarangan?.

Ataukah mungkin pikiranku ini saja yang bodoh dan salah, sok suci, melelahkan dan merugikan diri sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya dan memikirkan bagaimana jadinya apabila lingkungan sekitar berada tanpa sampah?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s