Malu Malu Anjing

Jepang. Negara satu ini adalah Negara yang membuat saya jatuh hati, sejak kecil legenda tentang betapa bahagianya memiliki Doraemon, betapa canggihnya Ksatria Baja Hitam dan betapa heroiknya para Samurai membuat saya takjub akan Jepang.

Bunga sakura yang indah, Sushi yang lezat, gunung Fuji yang menjulang, dan wanita jepang dengan gunung Fuji (kok gunung Fuji lagi), maksud saya wanita jepang dengan kulit yang lembut… Yah,, mimpi saya untuk menuju negeri matahari itu, mimpi yang indah di pagi hari, disiang hari, sore hari, apalagi dimalam hari disaat mata sudah lelah dan mengantuk. Jepang, jepang, jepang. Semua kekejamanmu pada bangsa dan negara pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia sudah terlupakan.

Kebudayaan positif Jepang memang patut diacungi jempol, malah sebagai seorang muslim saya kadang malu pada diri sendiri apababila berkaca pada kehidupan orang Jepang. Ada banyak kehidupan dengan nuansa Islami disana (tentunya banyak juga yang enggak, tapi pastinya orang Jepang tidak membuang sampah sembarangan), salah satu budaya positif Jepang itu adalah budaya “malu”.

Malu bertanya sesat dijalan begitulah ajaran tentang harus meninggalkan sifat malu, tentunya malu disini adalah malu yang buruk. Sifat malu adalah sebagian dari iman seseorang, setidaknya begitulah pepatah Arab mengatakan.
Bangsa Jepang adalah bangsa yang pemalu, budaya malu sudah menjadi budaya turun-temurun disana. Harakiri (Bunuh diri dengan menusukan pisau keperut dengan cara membelahnya dari sebelah kiri) menjadi ritual yang dilakukan oleh para manusia keren Samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Budaya malu ini di era modern menular ke anak-anak SD dan SMP nya yang kadang bunuh diri karena nilainya jelek atau tidak naik kelas, betapa heroiknya mereka. Setidaknya lebih elite daripada bunuh diri akibat putus cinta yang marak di Negara Kita.

Karena sikap malu ini, orang Jepang menjadi orang yang disiplin. Mereka secara otomatis membentuk antrean dalam keadaan yang membutuhkannya, bahkan malu untuk tidak antre untuk masuk toilet kendatipun sudah terkentut-kentut akibat menahan pup. Jikalau ada bahkan mungkin mereka antre menunggu jatah sembako dan sedekah sekalipun. Mereka akan rapi menunggu giliran.

Karena malu mereka tidak mengemis dan meminta-minta, orang Jepang menjadi pekerja keras. Pulang dari tempat kerja sebelum saatnya adalah hal yang sangat memalukan bagi orang Jepang, mereka akan merasa menjadi orang yang tidak berguna. Seorang Jepang mampu mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh 5-6 orang. Orang Jepang rata-rata pegawainya bekerja 2450 jam/tahun, sangat tinggi bila dibandingkan Amerika (1957 Jam/tahun) Jerman (1970 jam/tahun), atau Perancis (1680 jam/tahun). Bayangkan pegawai Jepang mampu membuat mobil dalam waktu 9 hari sedangkan pegawai dinegara lain memerlukan waktu 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Sebagai perbandingan seorang suku Dayak dipedalaman Indonesia belum tentu akan mampu membuat mobil seumur hidupnya kendati sebuahpun (ya iyalah).

Karena malu, perkembangan teknologi dan ekonomi macan Asia ini tidak membuat mereka kehilangan tradisi dan kebudayaannya.

Karena sikap malu juga mereka lebih senang memilih jalan memutar daripada menggangu pengemudi dibelakangnya dengan memotong jalur ditengah jalan. Dan lain-lain dan lain-lain. Kesimpulannya orang Jepang malu kepada lingkungannya apabila melanggar peraturan ataupun norma yang menjadi kesepakatan umum.

Sangat ekstrim dibandingkan Indonesia. Sebagai contoh, Ayah saya menanam singkong, pepaya dan nanas di sepetak tanah kebun yang jauh dari tempat tinggal. Setelah masa panen tanaman-tanaman tersebut, yang didapat ternyata hanya membuahkan separuh hasil bahkan kadang tidak menbuahkan hasil. Kadang Saya tidak mengerti, padahal Indonesia adalah negara yang subur. Sungguh malunya diri ini saat menyadari keadaan bangsa yang subur ini, dengan penduduk mayoritas berKTP Islam. Ternyata memakan singkong, membuat rujak nanas, menikmati buah pepaya dari hasil tanaman dan jerih payah orang lain tanpa merasa malu pada diri sendiri sedikitpun.

Mengapa hal ini harus terjadi?, padahal apa sih sulitnya berbicara secara baik-baik dan meminta hasil panen yang tidak seberapa itu kepada yang empunya kebun?. Tentunya yang empunya kebun akan merasa senang dan memberikan sebagian hasil panennya secara sukarela. Mungkin apabila saya menanyakan kepada mereka “Apa masalahmu”? maka mereka yang merasa akan menjawab. Karena Saya malu untuk meminta-minta…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s