Intelektualitas dan Jati Diri

Hari ini saya memandangi jajaran tumbuhan Oryza Sativa yang hijau, sesekali saya perbanyak nafas untuk menikmati kandungan udara yang baik ini, suara kicauan burung dan aliran air mengalir tiada hentinya.

Alangkah indahnya kampung halamanku ini, tanah air tumpah darah. Pantas saja masyarakat suku sunda jarang merantau ke daerah lain, mungkin ini dipengaruhi kebudayaan memiliki kecintaan akan kampung halamannya yang mendalam, seperti saya. Kampung halaman ini terlalu indah untuk ditinggalkan.

Seperti biasa, tadi pagi saya bermaksud untuk mengamati harta warisan onggokan tanah subur ini. Saya melintasi tiga batang bambu yang berfungsi sebagai jembatan pemotong aliran sebuah sungai. Lalu berjalan diantara pematang sawah yang memiliki jalur2 dengan lebar tak lebih dari dua jengkal. Sapaan ramah dan senyuman orang2 menyambut saya dengan penuh hormat dan kasih sayang. Kadang saya bertanya pada diri sendiri, “inikah arti hidup yang sesungguhnya?”.

Saya terlahir di tempat ini sebagai orang yang memiliki darah biru, keturunan dari jenius kebanggan masyarkat jaman dulu. Warga sekitar sesekali memanggil nama saya dengan sebutan “raden”, tak sedikit pula orang yang menyebut saya cerdas, meskipun kenyataannya cerdas itu sangatlah relativ. Kenyataannya sebenarnya saya hanya manusia bodoh yang terlihat pintar dimata mereka.

Masyarakat disekitar saya adalah orang2 yang dianggap memiliki IQ < 100, orang2 miskin yang memiliki penghasilan rata2 Rp. 20.000,- perhari. Tapi saya tak sedikitpun melihat wajah2 mereka menderita, senyum yang ramah dan kebahagiaan tampak dimasing2 wajah mereka. Bagi saya, merekalah orang2 jenius itu, orang2 yang memiliki EQ dan SQ yang tinggi.

Kerja keras yang mereka lakukan semata2 hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari2, inilah pikiran saya pertama kali ketika memandangi nasib mereka yang sedang tampak asik berbincang sambil mencangkul sawah.
Saya bertanya pada salah satu diantara mereka, kira2 artinya seperti ini
“mengapa bapak bersedia membanting tulang dan tampak bahagia?, padahal anda hanya dibayar Rp 20.000 saja?”
sambil tersenyum bapak itu menjawab “kekayaan itu bukan dinilai dari uang, dan harta. anda ingin menghitung kekayaan saya?, silahkan hitung sawah dan kebun yang saya miliki, silahkan hitung ternak kerbau dan kambing yang saya miliki, silahkan hitung biaya untuk sekolah anak cucu saya.”
saya terdiam sejenak, ya, bapak ini seorang yang kaya raya, sawah dan kebunnya luas, ternaknya banyak, kambingnya saja ada 12 ekor, saya hampir lupa anaknya saja sekarang sedang melanjutkan study di Mesir, universitas Al Azhar. Sayapun tersenyum.

Mungkin saya salah mengajukan objek pertanyaan, lalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada seorang bapak yang benar2 miskin, yang hanya mampu berpenghasilan untuk sesuap nasi.
namun, saya terkagum2 ketika mendengar jawab dari bapak itu.
“Saya bekerja bukan untuk mendapatkan harta dan uang yang banyak, tapi untuk mencari ridho-Nya, ada kebahagiaan ketika bekerja, karena saya bekerja dengan hati yang ikhlas, karena saya menerima dan mencintai pekerjaan saya, selama pekerjaan ini halal, saya tidak takut tidak dibayar, saya yakin Tuhan membayar saya di akhirat kelak.
anda lihat Keluarga saya seluruhnya bahagia, semua anak2 saya tumbuh sehat dan cerdas.”

saya berpikir, kalau begitu mencangkul di sawah bagi mereka ibarat bermain game atau bermain facebook bagi saya, asal rekan2 tahu, saya sukarela dengan hati yang gembira ketika bermain game dan facebook, apalagi ketika bermain saya dibayar Rp 20.000,-.
Wow,

IQ saya memang lebih tinggi bahkan jauh dibandingkan mereka, ada darah biru pula yang mengalir dalam aliran darah saya, namun saya hanya manusia terbatas yang sama sekali tidak pantas untuk menyombongkan diri. saya sangat menyadari, walaupun ada kebanggan dalam diri ini namun semua itu tidak membuat saya lebih mulia daripada mereka. Saya hanya manusia biasa. Bahkan masih jauh kalah dibandingkan mereka. Merekalah sebenarnya manusia2 yang cerdas itu, manusia yang sering kali kita anggap bodoh dan selalu di bodohi. EQ dan SQnya memiliki skor yang tinggi.
Dunia milik manusia takkan menjadi indah apabila selalu ada sikap sombong didalam diri manusia. Semoga Allah menjauhkan sikap sombong dalam diri saya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s