Teori Kehidupan : Keuntungan = Pengalaman sekarang > pengalaman sebelumnya

Ditulis: 18 April 2009

Malam ini saya terkena insomnia, sulit untuk tidur, saya berguling-guling kesana kemari namun rasa lelah karena berguling-guling tidak cukup untuk membuat kantuk datang. Mungkin karena tadi siang saya memang sudah tertidur begitu lama dan meminum secangkir kopi hangat ketika menulis tulisan tentang kopi. He2 Karena bingung harus bagaimana, akhirnya terciptalah tulisan ini.

Saya teringat akan sebuah perkataan rasul, “orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik daripada kemarin”.

Kemarin adalah hari pertama dalam hidup saya untuk merasakan nikmatnya sepotong steak. Saya memesan sebuah makanan yang tertulis “thunderloin” didalam menu yang tertera di sebuah restoran “Waroeng Steak dan Shake”. Tempat didaerah Bandung ini menurut ukuran seorang saya yang sederhana, adalah sebuah tempat mewah untuk melampiaskan nafsu makan. Dengan terpaksa dan hati yang berbunga-bunga saya berada ditempat ini karena mendapat jatah makan gratis sebuah jamuan dalam rangka perpisahan dan foto bareng mantan Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Komputer Universitas Pendidikan Indonesia.

Tempat ini kalau dibilang, memang sebenarnya belum termasuk tempat yang mewah. Harga makanan yang tertera di menu termasuk cukup murah untuk sepotong harga steak. Harga makanan dan minumannya bervariasi, harga makanan dimulai dari Rp. 7500,- dan harga minuman dimulai dari Rp. 750,-.

Dengan bingung dan ragu-ragu saya memilih jenis makanan yang ternyata belum pernah ada wujudnya didalam pikiran. Karena bingung harus memesan apa, saya mencoba memberanikan diri untuk memilih salah satu makanan dengan harga yang berada di kisaran pertengahan. Sedangkan minuman yang saya pesan adalah Teh manis hangat yang berlabel Rp. 2000,-.

Rekan saya memesan tambahan sepiring nasi Rp. 2000,- yang porsinya terlalu sedikit untuk ukuran orang bernafsu tinggi seperti saya, badan saya memang kecil. Namun apabila makan, perut saya dapat mampu menghabiskan 2 piring nasi + lauk pauk. Mungkin karena memperoleh warisan keturunan Indonesia yang selalu merasa belum makan apabila bongkahan nasi belum masuk kedalam perut.

Ukuran nasi disini membuat saya tidak merasa tertarik. Biasanya saya memang jarang memesan nasi dari sebuah warteg atau warung nasi biasa tempat saya makan, cukup lauk pauk dan sayur mayurnya saja. Hal itu karena saya selalu memasak nasi sendiri yang berasnya saya ambil dari rumah di Sukabumi. Semua itu sengaja atau tanpa sengaja dilakukan untuk menghemat anggaran hidup saya sebagai mahasiswa yang ngekost dan jauh dari orang tua (walaupun hanya 5 jam perjalanan menggunakan bus untuk sampai kerumah tercinta).

Makan ditempat seperti ini adalah sebuah moment yang berharga dalam diri saya. Anggaran sekali makan disini saja bagi saya adalah setara dengan melebihi anggaran makan sebanyak 4 kali. Rata-rata anggaran untuk sekali makan hanya Rp. 2.500,-. Saya sengaja memangkas anggaran untuk makan dan mengatur dengan sepenuh jiwa porsi makan agar walaupun seadanya namun tetap memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Anggaran sebagian yang seharusnya untuk jatah makan sehari-hari itu saya kumpulkan untuk tetap dapat online dan berinternet ria di warnet-warnet.

Disaat seperti ini saya merasakan nikmat luar biasa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya. Saat ini saya mungkin dapat menyombongkan diri dan bercerita kepada teman-teman dikampung tentang nikmatnya menyantap steak, namun nikmat yang sebenarnya adalah nikmat kesehatan dan jernihnya pikiran dan ilmu berupa pengalaman yang diberikan Tuhan bagi diri ini. Semua kenikmatan itu belum tentu diperoleh oleh orang yang telah terbiasa menyantap hidangan seperti ini, tapi bagi diri saya menyantap sepotong steak adalah sebuah pengalaman berharga yang mampu membuat otak mencitrakan kesan dan letupan emosi kebahagiaan dalam diri saya. Saya merasa bersyukur dan merasa beruntung karena telah lahir dilingkungan sederhana. Keyakinan akan apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik bagi diri ini menjadi bertambah. Dengan Cemas, Harapan saya berkata semoga Allah tidak memberikan ujian yang saya tidak mampu untuk menghadapinya. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s