Tentang Sebuah Cita-Cita

Tentang Sebuah Cita-Cita
Ditulis : 19 April 2009

Karena terobsesi oleh cerita-cerita tentang kehebatan para wali, sewaktu kecil saya bercita-cita untuk menjadi seorang kyai. Karena citra yang terdapat dalam pikiran saya waktu itu menggambarkan sosok seorang kyai atau pemuka agama selain memiliki pengaruh dan wibawa yang tinggi juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Salah satunya adalah Karomahnya Sunan Kalijaga yang mampu masuk kedalam tanah ataupun berjalan secepat angin dan dapat menghilang kesana-kemari.

Berikutnya kisah-kisah dongeng dan cerita-cerita dari para orang tua menjadikan saya bernafsu untuk menjadi seorang pendekar ataupun jawara yang sakti mandraguna. Kisah Wiro Sableng, si Buta dari Gua Hantu ditambah Film-film kungfu seperti Bruce Lee, Wong Fei Hung, bahkan Satria Baja Hitam dll yang dengan lincah mampu mengalahkan bahkan membunuh lawan-lawannya (dilarang meniru adegan ini!) membuat saya menjadi sangat berambisi untuk terjun ke dunia persilatan.

Lama kelamaan karena saya sangat senang ikut bepergian dan melakukan perjalanan dengan orang tua, akhirnya menjadi seorang sopir menjadi cita-cita saya berikutnya. Seorang sopir yang tiada hentinya melakukan perjalanan menjadi pilihan saya karena naik kendaraan memberikan sensasi kenikmatan dan kebahagiaan bagi saya ketika itu. Melihat-lihat pemandangan ketika perjalanan, goncangan-goncangan serasa naik komedi putar dan betapa cool-nya seorang sopir yang layaknya pembalap menyalip mobil-mobil didepannya (dilarang meniru adegan ini!) membuat jantung saya berdegup kencang dan memberikan keyakinan yang dalam. Dengan penuh haru dan kebanggaan hati saya berkata “Saya akan menjadi seorang sopir kelak!”.

Seiring berjalannya waktu, mungkin karena pikiran saya yang lebih rasional akhirnya cita-cita tersebut kandas direrumputan. Menjadi seorang Jenderal besar ataupun seorang Panglima hebat dalam sebuah pertempuran menjadi sasaran cita-cita saya berikutnya. Almarhum kakek saya yang memberikan inspirasi adalah seorang tentara pejuang ketika jamannya pemberontakan PKI sedang hangat di Indonesia, beliau menceritakan kisah-kisah heroik para pejuang tanah air dan betapa kerennya para pahlawan yang rela gugur menjadi syuhada demi membela bangsa dan negara.

Karena postur tubuh saya tidak memungkinkan untuk menjadi seorang tentara, akhirnya cita-cita saya beralih menjadi seorang ilmuwan. Saya terobsesi kisah-kisah spektakuler Galileo, Thomas Alpha Edison, Isac Newton, Albert Enistein dan orang-orang terkenal yang pantang menyerah dan merelakan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Sifat-sifat luar biasa mereka akhirnya mampu merubah dunia. Namun seperti cita-cita sebelumnya, cita-cita ini tenggelam karena saya menyadari kemampuan matematika dan hitung mengitung saya berada dijajaran rendah. Sikap malas untuk belajar dalam diri ternyata mengalahkan semangat dalam jiwa.

Cita-cita saya semakin terombang ambing dari menjadi seorang arsitek, insinyur, pengusaha bahkan presiden juga penguasa dunia, he2. Semakin bertambah tua dan bertambah bijaknya diri saya, akhirnya saya menyadari kemampuan-kemampuan dalam diri saya tampaknya jauh sekali untuk mampu merealisasikannya. Saya jatuh menjadi orang bodoh yang pesimis (dilarang meniru adegan ini!).

Siiing… Sampai akhirnya sebuah cahaya terang benderang menyinari saya dari kegelapan. Ayah Ibu saya adalah seorang guru yang memiliki gaji kecil pada waktu itu, namun sikap, pengorbanan, wibawa dan kehormatan kedua orang tua saya melahirkan sebuah pikiran hangat ke dalam aliran jiwa.

Saya merenung, dan berpikir. Layaknya menemukan sebuah intan berlian di WC umum, apabila diibaratkan karena saking bahagianya saya berlari dan berjingkrak-jingkrak girang sampai lupa memakai celana (dilarang meniru adegan ini!). Dengan segala pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru atau pendidik sebenarnya bukanlah cita-cita utama saya, cita-cita saya adalah menjadi pemuka agama, sopir pesawat terbang (biar lebih keren), pendekar (atlet olimpiade), jenderal, ilmuwan, pengusaha, arsitek, insinyur, presiden dan akhirnya menjadi penguasa dunia dan pensiun. Semua itu adalah cita-cita saya. Gila…!! He2.

Tentunya kita memang dianjurkan menentukan cita-cita setinggi-tingginya namun apabila tidak dilandasi oleh kemampuan dan usaha, cita-cita dapat berganti nama menjadi angan-angan kosong. Bahkan Peterpan menyebutnya sebagai Khayalan Tingkat Tinggi. Cita-cita saya memang tampak konyol dan mengada-ada. Asal anda ketahui, semua cita-cita saya bukanlah sebuah angan-angan kosong, karena akhirnya saat ini saya telah masuk Universitas Pendidikan Indonesia, lah mengapa??.

Saya memang belum mampu dan memungkinkan untuk dapat menjadi seorang pemuka agama, apalagi menjadi jenderal, ilmuwan, arsitek, insinyur, pengusaha, presiden dan semua cita-cita tersebut sekaligus. Namun dengan menjadi seorang guru atau pendidik profesional ketidak mungkinan tersebut menjadi terjawab. Saya memang tidak akan menjadi jenderal, menjadi ilmuwan dll apalagi menjadi presiden. Namun, apabila saya telah berhasil menjadi guru professional, guru teladan dsb bukanlah hal yang tidak mungkin saya akan mampu mencetak seorang murid yang akhirnya akan menjadi seorang jenderal, menjadi seorang ilmuwan, menjadi pengusaha terkemuka, menjadi seorang presiden bahkan seluruhnya sekaligus dalam waktu yang sama.

Yup, dengan kata lain, menjadi seorang guru adalah jalan untuk menjadikan cita-cita saya terwujud. Memiliki murid yang telah berhasil katakanlah menjadi seorang jenderal besar, adalah sama bagi saya menjadi seorang jenderal. Karena dalam seorang jenderal tersebut telah terdapat sebagian jiwa dan hasil keringat saya yang dalam hal ini sebagai seorang guru yang telah berhasil mendidiknya.

Terlepas dari semua itu, tentunya saya tidak hanya cukup membutuhkan motivasi dan usaha untuk mencapai cita-cita tapi juga membutuhkan ridho Allah (keberuntungan). Dengan penuh pengharapan, semoga cita-cita saya dapat tercapai. Amin.

5 thoughts on “Tentang Sebuah Cita-Cita

  1. Kalau Ega, tetep setia pilih jadi pahlawan kecil Ega dulu om Goy, kesatria baja hitam. “Henshin!” kata penuh semangat Kotaro Minami itu selalu terngiang-ngiang di hati (aih.. lebainya Ega 😉 he..) . Ayeuna Teu mungkin ari jadi satria baja hitam na mah, yang penting esensi menjadi pahlawan dan pelayan masyarakat, menjadi pribadi yang penting bagi kemuliaan bangsa dan agama itu intinya, terlepas apa pun pekerjaannya, dan jadi Guru merupakan pilihan plus cita-cita yang teramat mulia. Semangat om GOy!!! >> Eh ieu Ega, pindah haluan, jadi link ka blog abdina punten dirobih nya!! Nuhun.. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s